Salatiga – Kawasan Tingkir Lor, Kota Salatiga, dipadati ribuan jemaah dalam peringatan Haul Abdul Wahid sekaligus Haflah Akhirussanah Pondok Pesantren se-Tingkir Lor. Acara yang menggabungkan tradisi penghormatan leluhur dan perayaan kelulusan santri ini menjadi momentum memperkuat identitas Salatiga sebagai kota pendidikan berbasis karakter.
Wali Kota Salatiga, dr. Robby Hernawan, Sp.OG, yang hadir bersama jajaran Pemerintah Kota, memberikan apresiasi khusus bagi para pengasuh pesantren. Menurutnya, dedikasi pesantren dalam membina akhlak menjadi fondasi penting bagi pembangunan daerah.
“Ilmu yang diperoleh dari pondok pesantren harus menjadi pegangan agar kelak menjadi pribadi yang bermanfaat,” ujar Robby dalam sambutannya, Minggu (8/2/26).
Ia juga berharap para santri yang lulus mampu menjadi motor penggerak pembangunan di tengah masyarakat.
Pemerintah Kota Salatiga berkomitmen untuk terus menyokong pendidikan berbasis nilai agama. Robby melempar gagasan agar integrasi antara tradisi budaya dan religi seperti Haul Simbah Abdul Wahid ini dikelola secara lebih profesional.
Ia menargetkan acara tahunan ini bisa masuk dalam kalender wisata resmi yang tidak hanya menarik jemaah lokal, tetapi juga skala regional hingga internasional. “Sebagai Kota Pendidikan, Salatiga akan terus mendukung keberlangsungan pendidikan pesantren,” tambahnya.
Acara ini turut menghadirkan Pengasuh Pondok Pesantren Ribath Nurul Anwar Sragen, KH Ahmad Wafi Maemoen, sebagai penceramah utama. Dalam tausiyahnya, ulama yang akrab disapa Gus Wafi ini menekankan bahwa esensi haul adalah merawat warisan nilai, bukan sekadar seremonial.
“Tradisi Islam adalah tradisi yang baik, seperti berkumpulnya kita saat ini untuk saling mengenal keturunan para sesepuh, bukan untuk saling membanggakan nasab,” tutur Gus Wafi.
Turut hadir dalam acara tersebut sejumlah tokoh ulama di antaranya KH. Muslihuddin Yazid dan KH. Nur Abhlis, Lc. Pering. (had/naf)








