Semarang– Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Tengah menyoroti melemahnya fungsi kontrol sosial pers di tengah arus digitalisasi. Dalam peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 tingkat Jawa Tengah, insan pers diingatkan untuk kembali pada khitah jurnalistik yang berbasis data dan hati nurani.
Hal tersebut mengemuka dalam “Dialog 5 Rektor” bertajuk Menyehatkan Peran Kontrol Sosial untuk Memperkuat Kemerdekaan Pers yang digelar di Universitas BPD, Semarang, Kamis (5/2/26).
Ketua PWI Jawa Tengah, Setiawan Hendra Kelana, mengungkapkan keprihatinannya terhadap indeks kemerdekaan pers Indonesia yang masih tertahan di peringkat 127 dari 180 negara secara global.
“Ini menunjukkan kemerdekaan pers kita masih menghadapi tantangan serius. Intimidasi dan intervensi terhadap wartawan masih kerap ditemukan di lapangan,” ujar Setiawan dalam sambutannya.
Setiawan menilai, perguruan tinggi memiliki peran strategis sebagai mitra kritis pers. Menurutnya, pandangan akademik yang berbasis riset dan metodologi ilmiah merupakan amunisi penting bagi pers dalam menjalankan fungsi kontrol sosial terhadap kebijakan publik.
“Ketika pers melakukan kontrol sosial, masukan konstruktif sering kali datang dari akademisi. Di situlah benang merah antara pers dan kampus,” tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut, dilakukan pula penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara PWI Jateng dan Universitas BPD sebagai bentuk penguatan sinergi antara lembaga pers dan dunia pendidikan.
Tantangan AI dan Etika
Rektor Universitas Dian Nuswantoro (Udinus), Prof. Dr. Pulung Nurtantio Andono, menegaskan bahwa pers adalah penggerak pembangunan. Tanpa kehadiran pers, capaian bangsa tidak akan terartikulasikan dengan baik kepada publik.
Namun, di era kecerdasan buatan (AI), tantangan yang dihadapi semakin kompleks. Wakil Rektor I Universitas Semarang (USM), Prof. Dr. Ir. Haslina, mengingatkan bahwa digitalisasi AI adalah keniscayaan yang harus disikapi dengan kritis.
“Dibutuhkan kecermatan dan kreativitas agar pemanfaatan AI memberikan dampak positif, bukan justru memperkeruh arus informasi,” kata Haslina.
Senada, Wakil Rektor III Unimus, Dr. Eny Winaryati, menekankan pentingnya tiga pilar dalam bermedia: edukasi, partisipasi, dan hati nurani. Ia menganalogikan fungsi ini dengan konsep pendengaran, penglihatan, dan hati.
“Ada etika yang harus dikedepankan. Tugas media adalah memberikan narasi yang bisa dipertanggungjawabkan,” jelas Eny.
Selain membahas internal pers, dialog ini juga menyoroti pentingnya literasi media bagi mahasiswa. Rektor Universitas BPD, Prof. Dr. Sri Tutie Rahayu, menyatakan bahwa kampus bertanggung jawab mengedukasi sivitas akademika mengenai etika pers.
Di sisi lain, Rektor Universitas Panca Sakti Tegal, Prof. Dr. Taufiqulloh, menekankan bahwa kecakapan digital harus dibarengi dengan kontrol sosial, baik secara formal melalui Kode Etik Jurnalistik maupun informal melalui norma publik.
Acara ini turut dihadiri oleh jajaran pengurus PWI Jateng, tokoh pendidikan, serta didukung oleh berbagai mitra strategis mulai dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah hingga sektor swasta.
Melalui momentum HPN 2026, PWI Jateng berharap pers nasional dapat kembali menguatkan fungsinya sebagai pilar keempat demokrasi yang sehat dan profesional.(naf/red)




