• Redaksi
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
12-04-2026
Suara Peristiwa
  • Beranda
  • Gastronomi
  • Trending
    • Edunesia
  • Ekbis
  • Suara Anda
    • Ilpop
    • Abdimas
    • Opini
  • Galeri Foto
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Gastronomi
  • Trending
    • Edunesia
  • Ekbis
  • Suara Anda
    • Ilpop
    • Abdimas
    • Opini
  • Galeri Foto
No Result
View All Result
Suara Peristiwa
No Result
View All Result
Home Gastronomi

Mau “Enteng Jodoh”? Mandi di kali Condong dan Nikmati Serabi Ngampin Diyakini Jadi Solusi

Suara Peristiwa by Suara Peristiwa
16/02/2025
in Gastronomi, Trending
0

Related posts

Cerita Sopir Mudik Gratis Jateng: Rezeki di Tengah Sepi dan Bahagia Antar Pemudik Pulang

15/03/2026

Daya Tarik Baru Jalur Trans Jawa, KEK Batang Operasikan Coastal Rest Area

14/03/2026
Kab.Semarang- Setelah absen selama dua dasa warsa, tradisi Syakbanan di Kelurahan Ngampin , Ambarawa kembali digelar. Ratusan warga memadati area seputaran Kantor Lurah Ngampin yang terletak di tepi jalan  raya Ambarawa – Magelang , Sabtu (15/2/2025) malam.
Ketua panitia pelaksana, Hari Prasetyo (52) menjelaskan tradisi Syakbanan sudah berlangsung sejak lama. Tradisi itu diisi warga dengan  bermain air dan mandi di Kali Condong yang terletak di salah satu lingkungan di  Ngampin . Mereka percaya , dengan mandi di sungai itu akan enteng jodoh.
“Tradisi itu menurut pitutur para leluhur berawal dari pernikahan seorang pangeran pengembara dengan seorang gadis anak seorang janda setempat ,” jelasnya.
Diceritakan , ketika itu sang Pangeran tiba di suatu wilayah lalu bersuci . Setelah itu , dia bertemu dan jatuh cinta dengan seorang gadis . Pertemuan itu berlanjut ke jenjang perkawinan. Sang gadis kemudian dijadikan selir atau garwa ampeyan. Dari kata “ampeyan” itulah kemudian tercipta nama “Ngampin “.
Saking senangnya dengan perkawinan sang putri, dibuatlah penganan terbuat dari beras pecah atau menir dan olahan buah kelapa. Kudapan itulah kue serabi yang terkenal sampai sekarang.
“Jadi setelah bersuci, warga yang ingin bertemu jodoh lalu menikmati kue serabi yang dijajakan di tepi jalan,” terangnya lagi.
Tradisi Syakbanan dilaksanakan selama tiga malam. Penanda awalnya adalah tradisi Sadranan atau bersih-bersih dan berdoa bersama di makam Penggung dan lainnya . Setelah itu , warga akan bersuka ria dan berlalu lalang di wilayah Ngampin . Penjual serabi  menjajakan dagangannya sekaligus menyambut warga yang merayakan.
Tradisi Syakbanan kali ini, lanjut Hari, dirangkai dengan prosesi pengambilan air dari sembilan mata. Tujuannya sebagai pengingat untuk melestarikan sumber air yang bermanfaat bagi kehidupan warga.  Setelah berjalan berkeliling, kumpulan air dalam wadah  itu dibawa ke Kantor Lurah. Ratusan warga dengan antusias melihat arak-arakan pembawa air itu. Mereka  dikawal petugas yang membawa  obor. Ditampilkan pula secara khusus proses pembuatan serabi.(edi/at)
Previous Post

Herda ; Jamin Stabilisasi Harga Pangan 2025

Next Post

Dorong Digitalisasi, Solusi Cukupi Pemenuhan Pelayanan di Daerah

Next Post

Dorong Digitalisasi, Solusi Cukupi Pemenuhan Pelayanan di Daerah

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

HUBUNGI KAMI

Email : redaksi@suaraperistiwa.id
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy

Copyright 2026 © SuaraPeristiwa.id

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Gastronomi
  • Trending
  • Ekbis
  • Suara Anda
    • Ilpop
    • Abdimas
    • Opini
  • Galeri Foto

Copyright 2026 © SuaraPeristiwa.id